‘Killers’: Ketika Ashton Kutcher Jadi James Bond

KILLERS

KILLERS

Para pembunuh zaman sekarang melancarkan aksinya dengan berlagak sebagai seorang gigolo kelas atas. Mereka keluar dari hotel mewah di sebuah kota kecil di Prancis yang eksotik dengan bertelanjang dada, memamerkan perutnya yang six-pack bak papan penggilesan, sambil, menggoda cewek yang berada dalam satu lift. Dia, cewek itu, biasanya sedang patah hati dan berwisata untuk melupakan kekasih yang telah meninggalkannya.

Ah, para pembunuh zaman sekarang! Mereka gemar mengenakan kaos v-neck putih transparan dan akan membuatmu jatuh cinta dalam sekali pandang ketika akhirnya mengundangmu makan malam.

Tapi, sebentar…para pembunuh? Perkenalan di dalam lift sebuah hotel yang berlanjut dengan undangan makan malam dari si cowok? Komedi romantik dengan sedikit ramuan unsur action? Well, setelah “Knight and Day”-nya Tom Cruise yang seru dan menghibur, saya khawatir Anda akan kecewa dengan film terbaru sutradara Robert Luketic (‘The Ugly Truth’) ini.

Tapi, jika di bagian awal saja Anda sudah langsung dimanjakan dengan dada bidang dan lengan kekar Ashton Kutcher, boleh jadi yang namanya cerita dan plot sudah tidak akan lagi menjadi pertanyaan. Anggap saja Anda sedang duduk di ruang tunggu bandara menunggu penerbangan yang terlambat, dan tidak ada pilihan selain nonton film di televisi yang ada di pojokan.

Film dibuka di dalam pesawat, ketika Jen (Katherine Heigl) siap terbang ke Prancis untuk sebuah liburan keluarga bersama ayahnya yang protektif (diperankan oleh aktor veteran Tom Selleck) dan ibunya yang ngocol dan agak karikatural (Catherine O’Hara). Dari obrolan dengan ayahnya kita tahu, Jen sedang patah hati. Sang ayah senang, walau sedang berduka, Jen tidak membatalkan keikutsertaannya dalam acara liburan itu.

Bagi Jen sendiri, liburan itu nyatanya memang tidak sia-sia karena di sanalah dia mendapatkan pengganti pacarnya yang telah pergi. Perkenalannya dengan Spencer (Ashton Kutcher) dalam waktu singkat berlanjut dari kencan menjadi hubungan yang lebih serius: Spencer ingin menikahi Jen.

Kepada penonton, Spencer diperkenalkan sebagai semacam James Bond, agen rahasia partikelir yang punya lisensi untuk membunuh, plus penegasan: yang dibunuh hanyalah orang-orang jahat yang merugikan masyarakat. Demi Jen, Spencer rela meninggalkan pekerjaannya itu.

Tapi, ini adalah sebuah film komedi romantis, bukan “thriller-spionase” yang serius. Jadi, ketika menjelaskan siapa dirinya di kencan pertama, dengan konyolnya Jen sudah keburu ketiduran. Kelak, tiga tahun kemudian, ketika mereka sudah menjadi sepasang suami istri, insiden “Spencer ngomong sendiri karena Jen ketiduran” itu menjadi masalah karena Jen merasa dibohongi, dan selama ini ternyata tidak tahu-menahu siapa sebenarnya Spencer.

Sampai di sini, alur “Killers” masih kedengaran cukup menarik. Tapi, tunggu sampai adegan-adegan pesta blok, pesta ulang tahun kejutan bagi Spencer dari Jen dan tetangga-tetangganya dan di sela-sela itu, panggilan dari masa lalu Spencer datang. Di saat Jen tengah hamil muda, terbongkarlah masa lalu Spencer sebagai pembunuh. Selain harus menjelaskan kepada istrinya, Spencer juga harus menyelamatkan dirinya dari ancaman pembunuhan. Seseorang telah membuat sayembara berhadiah besar bagi siapa yang berhasil membunuh Spencer.

Setelah titik ini, “Killers” berubah menjadi komedi-komikal yang “maksa” dan sama sekali tidak lucu. Tetangga-tetangga satu blok yang tadinya hanyalah orang-orang biasa baik-baik, mendadak menjadi monster-monster jahat yang memegang senjata api, siap membunuh Spencer demi hadiah. Dan, di saat seperti itu, ibu Jen tetap muncul dengan ekspresi ngocolnya.

Kesimpulannya, film ini kurang asyik dalam memadukan unsur-unsur pembangunnya, yakni komedi, romantis dan action. Jadinya terasa datar-datar saja, dengan ending yang lemah: peran penting sang ayah yang terungkap di akhir cerita membuat kita garuk-garuk kepala karena premisnya tidak dikembangkan dengan baik dari awal.

Katherine Heigl memperlihatkan akting yang baik, namun perubahan karakterisasi Jen dari istri yang merasa dibohongi dan ketakutan menjadi sekutu yang gagah perkasa bagi sang suami juga terasa drastis dan bombastis. Dan, salahkan naskah film ini jika kita lupa peran Ashton Kutcher kecuali sebagai pria yang berjalan-jalan di hotel bertelanjang dada sambil senyum-senyum karena sangat sadar dirinya ganteng dan seksi. Pembunuh? Siapa yang percaya!

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: