‘The Expendables’: Parade Aktor Laga, Senjata, Darah & Bom

THE EXPENDABLES

THE EXPENDABLES

Apakah barisan aktor terkenal bisa membuat cerita dan penjualan lebih baik? Jawabannya belum tentu. Formula ini pernah dipakai ‘Rat Race’ dan ‘Dr. T and Women’, misalnya. Dan ‘The Expendables’ pun kini memakai resep yang sejenis.

Film ini berpusat pada Barney Ross (Sylvester Stallone, yang juga sebagai sutradara), mantan pemimpin pasukan bayaran yang nongkrong bareng grup motor gede di pusat pembuatan tato milik Tool (Mickey Rourke).

Suatu hari, Barney ditawari sosok misterius Mr. Church (Bruce Willis) untuk membunuh Jendral Garza (David Zayas), seorang diktator di sebuah pulau terpencil di Amerika Selatan. Sang jendral sangat kejam, dan rupanya dia cuma boneka dari James Munroe (Eric Roberts).

Singkat kata, Barney pun menyiapkan orang-orang terbaiknya, seperti Si Jago Silat Ying Yang (Jet Li), pakar pisau Lee Christmas (Jason Statham), ahli senjata berat Hale Caesar, si pengebom Toll Road (Randy Couture). Penembak  jitu Gunner Jensen (Dolph Lundgren) ditolak karena masih pecandu dan, gampang ditebak, dia membelot ke Munroe.

Saat Barney dan Lee ke sana, dia dibantu oleh Sandra (Giselle Itie), tokoh pemberontak yang ternyata adalah putri dari sang jendral, target mereka (familiar dengan plot ini?). Karena sulitnya medan, Barney membatalkan misi itu, tapi masih kepikiran Sandra yang menolak diajak keluar dari pulau jahanam itu.

Sebuah dilema moral yang kemudian, lagi-lagi mudah diterka, membuatnya kembali ke pulau itu untuk ‘hanya sekadar’ membebaskan si jelita. Cukup romantis? Atau sangat Hollywood?

Para anggota pasukan ‘keren’ ini punya masalah sendiri yang sifatnya sangat fisik. Ada yang patah hati karena ditinggal kawin pacarnya yang tidak tahu nasib sang jagoan. Ada yang mantan pegulat (dan tentu ada banyak perkelahian ala WWF di sini) yang bentuk kupingnya aneh, dan dia sangat sensitif akan hal ini. Ada si orang Asia yang  pendek dan mudah tersinggung bila disindir soal ini.

Sekali lagi, apakah deretan nama besar itu sukses membuat film ini berkualitas? Untuk jumlah pendapatan, mungkin iya. Tapi untuk cerita, jika Anda mencari lebih dari sekadar hiburan, maka siap-siap akan kecewa.

Film ini masih menampilkan Stallone yang seperti Rambo, lengkap dengan otot tangan yang menonjol, mengacak-acak sebuah tempat tanpa terluka sedikit pun. Dan dia ibarat Hannibal yang memimpin The A-Team, hanya saja sekarang ada bumbu wanita eksotis di dalam perkisahan itu. Tentu adegan aksi begitu mempesona: pertarungan tangan kosong, kebut-kebutan, adu tembak, kepiawaian memainkan pisau, senjata dan kendaraan super canggih. Dan darah berkali-kali muncrat, pistol ditembakkan dan bom diledakkan. Tapi hanya sebatas itu saja.

Banyaknya karakter membuat film ini terfokus pada Stallone. Nah, sayangnya, karakter lain tidak berkembang dengan baik, bahkan hanya terkesan selintas lalu. Sangat amat disayangkan Arnold Schwazenegger dan Bruce Willis hanya hadir beberapa scene saja, sementara kemampuan kung fu Jet Li juga tidak banyak dieksplorasi, padahal dia berhadapan dengan Dolph Lundren, lho.

Begitu pun dengan Mickey Rourke yang sepertinya Cuma tempelan belaka di sana. Coba kalau ada  aktris cantik popular, tentu makin memperindah film.

Pada akhirnya, film ini hanya mengingatkan kita pada The A-Team, yang kali ini dipimpin oleh Rambo.  Tidak jelek sih, untuk sebuah film dar der dor. Tapi jangan berharap lebih. Dan, sebagai bonus, perhatikan bagaimana Barney ditato Tool dan hubungkan dengan emosi penonton.

Tags: , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: